Ekspor pertanian China hadirkan cita rasa pedesaan ke tingkat global

1 week ago 6

Guiyang (ANTARA) - Di pegunungan terpencil di Guizhou, sebuah provinsi yang terkurung daratan di China barat daya di mana tradisi melekat sedalam lembah-lembahnya, warga setempat mengubah produk pertanian menjadi komoditas global, memberikan napas kehidupan baru bagi perekonomian pedesaan.

Tersembunyi di lanskap berbatu di wilayah Sinan, sebuah pabrik makanan pedesaan memproduksi lebih dari 100.000 boks mi ubi jalar pedas setiap harinya.

Hidangan itu merupakan makanan instan pedas yang populer di kalangan pecinta kuliner muda.

Tahun lalu, berkat platform-platform e-commerce lintas batas seperti Alibaba dan JD.com, banyak dari produk itu diekspor ke luar negeri, termasuk Arab Saudi.

"Makanan tidak hanya untuk dinikmati di meja makan dalam negeri; makanan ini layak dinikmati oleh semua orang di seluruh dunia," ujar Zhang Cheng, pimpinan perusahaan itu.

Zhang menambahkan bahwa perusahaan itu menargetkan untuk menggandakan nilai penjualan luar negerinya menjadi 2 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp16.275) pada 2025.

Pihaknya akan berfokus pada pasar di Korea Selatan dan negara-negara di Asia Tenggara, di mana mi instan China membantu memenuhi kebutuhan akan makanan praktis.

Pada 2023, Sinan menjadi salah satu wilayah percontohan pertama di Guizhou yang mengembangkan "perdagangan luar negeri pedesaan."

Hingga saat ini, nilai ekspor wilayah Sinan telah melonjak hingga melampaui 200 juta yuan (1 yuan = Rp2.234) atau sekitar 28 juta dolar AS, dengan produk-produk seperti teh dan mi ubi jalar diekspor ke Vietnam, Indonesia, dan negara-negara Eropa, menurut data pemerintah.

James Finlay (Guizhou) Tea Co., Ltd., satu-satunya perusahaan milik asing di wilayah tersebut, mengirim produknya ke klien-klien di Polandia dan Inggris.

Liu Renjun, manajer produksi perusahaan itu, menyampaikan setelah Tahun Baru Imlek, jumlah pesanan dari luar negeri melonjak dibandingkan dengan tahun lalu.

Perusahaan itu memperkirakan akan mengekspor 600 ton produk teh senilai 1,2 juta dolar AS pada kuartal pertama 2025. Pada 2023, sebuah rencana pemerintah yang dikeluarkan oleh departemen perdagangan dan departemen terkait di provinsi itu menguraikan bahwa Guizhou menargetkan memiliki 500 perusahaan yang terlibat dalam ekspor pedesaan pada 2025.

Dengan target tersebut, diharapkan pendapatan ekspor tahunan sektor tersebut dapat meningkat sebesar 5 miliar yuan.

Data bea cukai menunjukkan bahwa pada tahun lalu, provinsi itu telah mengekspor beberapa produk pertanian, termasuk plum madu-gula dan minuman beralkohol dari gastrodia, untuk pertama kalinya.

Menurut data dari Pusat Promosi Perdagangan Pertanian yang dinaungi Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan China, nilai ekspor pertanian China mencapai 103 miliar dolar AS pada 2024, menandai peningkatan 4,1 persen dari tahun sebelumnya.

Dalam produksi mi ubi jalar saja, lebih dari 60.000 warga wilayah terlibat dalam rantai industri mulai dari pertanian, pengolahan, hingga penjualan.

Perusahaan Zhang berencana merekrut lebih dari 100 orang untuk membuka lebih banyak lini produksi guna memenuhi pesanan yang terus meningkat.

"Bersama dengan pesanan dalam negeri, kami menargetkan nilai pendapatan penjualan sebesar 1 miliar yuan pada tahun ini," tutur Zhang.

Pewarta: Xinhua
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
Rakyat news | | | |