Daur ulang limbah elektronik berpotensi ciptakan ekonomi sirkular

3 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Sebuah langkah kolaboratif dan proaktif yang melibatkan multipihak untuk mendaur ulang limbah elektronik, utamanya gawai bekas yang tidak terpakai dengan menyediakan kotak pengumpulan atau drop box dilakukan untuk menciptakan ekonomi sirkular.

Dalam konferensi pers bertajuk Gerakan Jaga Bumi di Jakarta, pada Kamis, perusahaan gawai Erafone mengajak komunitas, aktivis, hingga seluruh masyarakat untuk melakukan inisiatif menyerahkan gawai bekas ke drop box yang disediakan pada lima wilayah kerja untuk didaur ulang kembali.

"Melalui Erafone Jaga Bumi, kami berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat serta membangun kebiasaan konsumsi elektronik yang lebih bertanggung jawab demi masa depan yang lebih berkelanjutan," kata Head of CSR Erajaya Grup Rezza Lazuardi Pramata.

Ia mengemukakan, melalui gerakan Jaga Bumi yang menyediakan fasilitas pengumpulan limbah elektronik dengan 25-30 drop box di lima wilayah kerja, dapat menjadi solusi aman bagi masyarakat yang ingin membuang perangkat elektroniknya.

Baca juga: Malaysia sita 106 kontainer limbah eletronik ilegal

Baca juga: Pendidikan digital hasilkan sampah elektronik yang merusak lingkungan

"Sampah elektronik yang kelak terkumpul di sejumlah titik drop box Erafone akan didaur ulang melalui proses yang ramah lingkungan. Kami menunjuk mitra-mitra yang kompeten untuk mengelola limbah elektronik. Mereka akan melaporkan kembali perkembangan daur ulang yang dilakukan," ujar dia.

Rezza melanjutkan, pada tahap awal akan hadir 10 drop box di sepuluh gerai Erafone yang tersebar di DKI Jakarta.

Sementara itu, Aktor sekaligus Aktivis Lingkungan Ramon Y. Tungka mengemukakan, di Indonesia kesadaran akan pentingnya mengelola limbah elektronik masih sangat minim, padahal, jika dimanfaatkan dengan baik, khususnya oleh para pelaku industri kreatif, limbah tersebut dapat menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi.

"Pelaku industri kreatif belum sadar bahwa itu punya nilai ekonomi. Selama ini, untuk membangun kesadaran akan hal itu, kita sendiri yang datang ke toko servis, kemudian dihibahkan, tetapi hanya satu atau dua orang saja yang punya kesadaran untuk memberikan elektronik bekasnya," paparnya.

Ia mengemukakan, pelaku industri kreatif kini tentu tidak bisa lepas dari gawai, sehingga, semakin banyak masyarakat yang tahu tentang nilai ekonomi limbah elektronik, maka mereka akan lebih sadar untuk tidak menumpuk limbah elektronik di rumah.

"Limbah elektronik itu sangat berbahaya untuk lingkungan juga kesehatan, karena ada bahan-bahan kimia di dalamnya. Melalui inisiasi ini, semoga semakin banyak masyarakat yang sadar untuk tidak membuang limbah elektronik sembarangan, termasuk di tempat pembuangan akhir (TPA)," tuturnya.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), diketahui Indonesia menghasilkan dua juta ton sampah elektronik setiap tahun, namun yang bisa dikelola secara baik melalui sistem daur ulang resmi baru sekitar 17,4 persen.*

Baca juga: KLHK tetapkan 4 tersangka pembakaran limbah elektronikdi Tangerang

Baca juga: Ribuan ton limbah elektronik ancam kesehatan pemulung di Makassar

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
Rakyat news | | | |