Manokwari (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut ada delapan generator sumber gempa bumi di Tanah Papua yang terdiri atas dua subduksi lempeng dan enam sesar aktif.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan hal itu secara virtual pada seminar nasional Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Universitas Papua di Manokwari, Papua Barat, Selasa.
Dwikorita menjelaskan dua sumber gempa subduksi lempeng samudera yaitu subduksi lempeng Papua Nugini Thrust, dan subduksi lempeng Manokwari Thrust yang terletak di perairan selatan.
Kemudian, enam sumber gempa sesar aktif meliputi zona sesar Sorong, zona sesar Yapen, zona sesar Mamberamo, zona sesar Ransiki-Wandamen, zona sesar Tarera-Aiduna, dan zona sesar Naik Jayawijaya.
"Ini perlu menjadi perhatian semua pemangku kepentingan yang ada di seluruh wilayah Papua, karena sumber gempa tidak hanya di dasar laut tetapi di darat," katanya.
Menurut dia, wilayah Papua merupakan salah satu kawasan di Indonesia dengan tingkat kegempaan sangat tinggi, karena terdapat aktivitas subduksi lempeng dan sesar yang aktif.
Baca juga: BMKG ungkap terjadi 368 gempa di Tanah Papua selama September 2024
BMKG telah menyebarkan 77 jaringan sensor seismograf broadband, dan 2 sensor seismograf mini regional sebagai upaya memitigasi terhadap gempa bumi di seluruh Papua.
"Pusat gempa itu menunjukkan cerminan keberadaan sumber gempa, sehingga penyusunan tata ruang mengidentifikasi sesuai zona," ujar Dwikorita.
Berdasarkan catatan BMKG sejak tahun 1864 sampai 2015, sudah lebih dari 17 kali gempa bumi merusak yang mengakibatkan 1.039 jiwa meninggal dunia, puluhan orang hilang, dan ratusan luka-luka.
BMKG juga mencatat sebanyak sembilan kali peristiwa tsunami yang dipicu gempa bumi terhitung sejak 1871 dengan jumlah korban meninggal dunia kurang lebih 487 orang.
"Catatan katalog gempa sudah terjadi lebih dari 17 kali gempa kuat, dengan sembilan kali memicu tsunami," ujarnya.
Dia menyebut potensi gempa dan tsunami di wilayah Papua merupakan ancaman abadi yang tidak dapat diprediksi, sehingga upaya mitigasi tetap harus dilaksanakan dengan maksimal.
Hal tersebut sesuai dengan peta seismotektonik yang menggambarkan bahwa perairan utara Papua banyak terdapat sumber gempa yang berpotensi menimbulkan tsunami.
"Bukan berarti kalau ada pusat gempa lalu tidak boleh ada pembangunan. Kita harus beradaptasi dengan menerapkan standar bangunan tahan gempa," kata Dwikorita.
Baca juga: Masuk Sesar Papua, Pemprov Papua Barat antisipasi bencana alam
Baca juga: BMKG Jayapura: Sekolah lapang gempa bumi untuk edukasi masyarakat
Pewarta: Fransiskus Salu Weking
Editor: Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2025