Apa kandungan dan efek gas air mata?

1 week ago 6

Jakarta (ANTARA) - Gas air mata (tear gas) adalah senjata kimia yang sering digunakan untuk membubarkan massa atau terjadi kerusuhan. Meskipun disebut "gas", zat ini sebenarnya berbentuk aerosol, yaitu campuran partikel padat atau cair yang tersebar di udara.

Lantas, apa isi kandungan, efek samping, sekaligus cara penanganannya bila terpapar gas air mata? Berikut ulasannya.

Gas air mata atau disebut lakrimator, pertama kali digunakan pada Perang Dunia I (1914-1918), saat perperangan antar negara Jerman dan Perancis. Setelah sering digunakan oleh berbagai negara, gas air mata dikategorikan sebagai senjata kimia (chemical weapon).

Gas air mata bekerja dengan cara mengiritasi selaput lendir pada mata, hidung, mulut, dan paru-paru, yang kemudian menyebabkan rasa sakit hingga kehilangan penglihatan.

Baca juga: Polisi tembakkan gas air mata untuk bubarkan pendukung PSIS

Kandungan gas air mata

Gas air mata mengandung berbagai senyawa kimia yang dapat menyebabkan iritasi dan efek berbahaya bagi kesehatan. Beberapa kandungan gas air mata yang paling umum meliputi:

  • Chloroacetophenone (CN): Salah satu senyawa awal yang digunakan dalam gas air mata. CN dapat menyebabkan iritasi parah pada mata, kulit, dan saluran pernapasan.
  • Chlorobenzylidenemalononitrile (CS): Senyawa yang lebih umum digunakan daripada CN. CS dianggap sedikit kurang beracun daripada CN, tetapi tetap dapat menyebabkan efek yang kuat.
  • Dibenzoxazepine (CR): Senyawa ini dianggap lebih kuat dari CS dan dapat menyebabkan efek yang lebih parah.
  • Oleoresin Capsicum (OC): Dikenal sebagai semprotan merica, OC diekstrak dari cabai dan menyebabkan sensasi terbakar yang hebat pada kulit, mata, dan saluran pernapasan.

Tidak hanya itu, masih banyak terdapat kandungan senyawa kimia lainnya yang berpotensi timbul efek bagi tubuh, yakni Chloropicrin (PS), Nromobenzylcyanide (CA), Diphenylaminechlororarsine (DM), Bromoacetone, dan Metilbenzil Bromida.

Untuk kandungan zat aktif dalam gas air mata, seperti Chlorobenzylidenemalononitrile dan Dibenzoxazepine, memiliki efek yang jauh lebih tinggi hingga 10.000 kali lipat rasa sakit.

Baca juga: Aparat tembakkan peluru gas air mata ke arah massa

Efek samping gas air mata bagi kesehatan

Paparan gas air mata dapat menyebabkan berbagai efek kesehatan yang merugikan, mulai dari dampak jangka pendek hingga panjang, tergantung pada konsentrasi gas, durasi paparan, dan kondisi kesehatan seseorang.

Terutama bila paparan gas air mata terjadi dalam durasi yang lama, dalam jumlah besar, berada di ruang tertutup, dapat meningkatkan rasa efek samping yang parah.

Beberapa efek samping dari gas air mata yang umum terjadi meliputi:

  • Iritasi mata: Mata merah, gatal, perih, berair, penglihatan kabur, dan bahkan dapa terjadi kebutaan sementara hingga erosi kornea.
  • Iritasi pernapasan: Hidung terasa panas dan gatal, sulit bernapas, batuk, dada sesak, rasa terbakar di tenggorokan, dan peningkatan produksi air liur. Pada orang dengan asma atau masalah pernapasan lainnya, efek ini bisa lebih parah.
  • Iritasi kulit: Peradangan, rasa terbakar, dan gatal-gatal pada kulit.
  • Efek sistemik: Mual, muntah, dan dalam kasus yang parah hingga kematian.

Melansir dari laman halodoc, terjadinya efek samping tersebut karena zat kimia di dalamnya berinteraksi dengan dua jenis reseptor rasa sakit utama, yaitu TRPA1 dan TRPV1.

TRPA1 adalah reseptor rasa sakit yang sama dengan minyak dalam mustard, wasabi, dan lobak untuk memicu rasa sakit yang kuat.

Sedangkan, TRPV1 adalah saluran kation non-selektif dan reseptor polimodal yang diaktifkan oleh capsaicin, lipid endogen, panas, dan pH yang agak asam. Sehingga, memicu reaksi rasa nyeri.

Selain itu, efek gas air mata dapat menjadi lebih berbahaya jika seseorang memiliki kondisi medis yang sudah ada sebelumnya, seperti asma atau penyakit jantung. Bahkan, paparan berulang atau konsentrasi tinggi gas air mata juga dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang.

Baca juga: Bangladesh tembakkan gas air mata ke pengunjuk rasa

Penanganan jika terkena paparan gas air mata

Jika terpapar gas air mata, hingga saat ini belum tersedia penawar atau obat khusus. Namun, terdapat beberapa tindakan yang perlu segera dilakukan untuk mengurangi efeknya. Beberapa langkah yang dapat diambil meliputi:

  • Tutup hidung, mata, dan mulut: Hal ini membantu mengurangi jumlah gas yang masuk ke dalam tubuh.
  • Bilas dengan air bersih: Cuci mata dan kulit dengan air mengalir selama setidaknya 10 menit. Air garam steril (air infus) lebih dianjurkan untuk membilas mata.
  • Hindari menggosok mata: Dengan menggosok mata, dapat memberi reaksi kristal gas air mata dan memperburuk iritasi.
  • Ganti pakaian: Lepaskan pakaian yang terkontaminasi dan cuci secara terpisah.
  • Mandi dengan sabun: Mandi dengan sabun dan air mengalir untuk menghilangkan sisa-sisa gas air mata dari kulit tubuh.
  • Cari pertolongan medis: Jika efeknya parah atau tidak membaik setelah tindakan awal, segera cari pertolongan medis untuk ditangani lebih lanjut.

Baca juga: Kompolnas akan surati Kapolri soal penggunaan gas air mata di demo

Baca juga: Polri tegaskan pengadaan gas air mata sudah sesuai prosedur

Pewarta: Putri Atika Chairulia
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
Rakyat news | | | |