Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (Adinkes) mengatakan bahwa sosialisasi dan edukasi serta kompetensi puskesmas perlu ditingkatkan agar Cek Kesehatan Gratis (CKG) berjalan optimal,
"Saya kira pemerintah pusat, Kementerian Kesehatan telah mempersiapkannya, bukan hanya pemeriksaan, tetapi juga tentang rujukan kasus," kata Ketua Adinkes Muhammad Subuh di Jakarta, Rabu.
Dia menjelaskan, CKG penting guna mendeteksi berbagai faktor risiko sebelum penyakit menjadi parah, contohnya diabetes, hipertensi, dan lain-lain. Sayangnya, kata dia, banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang CKG.
Baca juga: Kemenkes lakukan evaluasi harian untuk perbaiki kualitas CKG
"Diabetes ini kan suatu penyakit yang mungkin yang baru terdiagnosis itu 30 persen dari seluruh kasus yang ada. Ini hampir rata-rata ya, teman-teman dinas telah laporkan, angka temuan kasus terhadap pemeriksaan gula darah itu rata-rata tinggi, termasuk juga tensi juga tinggi," ujar dia.
Banyaknya laporan tersebut, menurut dia, merupakan indikasi bahwa masyarakat perlu memberikan perhatian tentang penyakit diabetes melitus. Begitu pun terhadap hipertensi.
Baca juga: Ketum PB IDI: CKG hasilkan peta rekaman medis komprehensif
Dengan CKG, kata dia, intervensi terhadap berbagai faktor risiko seperti konsumsi gula, garam, dan lemak yang berlebihan atau kebiasaan merokok dapat dilakukan, sehingga kasus-kasus katastropik dapat ditekan.
Subuh menyebutkan, Kementerian Kesehatan sudah memikirkan untuk lebih meningkatkan jumlah dari pemeriksaan, contohnya asam urat, lemak, dan lain-lain.
"Kan bisa lagi lebih meningkatkan HbA1c, kalau untuk diabetes. Kementerian ini kan baru pemeriksaan gula darah saja. Mungkin seperti itu yang harus kita lakukan," ujar dia.
Baca juga: Anggota DPR: Masyarakat tak perlu takut periksa kesehatan lewat CKG
Dia menambahkan, terkait beban kerja, sejauh ini dinas-dinas kesehatan belum melaporkan peningkatan beban kerja yang signifikan selama 2 minggu berjalannya CKG, karena belum banyak yang datang untuk memanfaatkan layanan itu. Namun, hal tersebut dapat berubah seiring sosialisasi yang masif.
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2025